Senin, 15 Juni 2015

Makalah Guru Sebagai Panggilan Jiwa



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang guru adalah topik yang takkan pernah habis untuk dibicarakan. Kisah perjalanan profesi guru terus berjalan seiring berjalannya waktu. Pasang surut terus terjadi dari masa ke masa. Dulu profesi guru bukannlah jenis pekerjaan yang disukai dan diminati banak orang. Untuk menjadi seorang guru, orang tersebut harus benar-benar bermental baja, siap berkorban,puna kesabaran yang tinggi dan harus siap diupah dengan bayaran yang rendah atau bahkan bagi guru non formal kadang kala harus menunggu uluran tangan orang tua anak ang didikna karena ia tak pernah menetapkan tarif bayaran untuk anak didiknya.
Kalau bukan karena panggilan jiwa, sepertinya sangat sulit bagi seseorang untuk memilih guru menjadi profesinya. Faktanya banyak factor ang membuat seseorang mau menjadi guru. Ada yang menjadikan guru sebagai profesi, namun banyak juga yang menjadi guru karena panggilan nurani. Seseorang yang benar-benar ingin memberikan ilmunya kepada anak didiknya sebagai calon penerus bangsa secara tulus. Sosok manusia yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa maupun hati nurani bukan karena tuntutan material belaka, itulah profil guru ideal yang sesungguhnya.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka diambil sebuah rumusan masalah sebagai berikut : guru sebagai panggilan jiwa.





BAB II
PEMBAHASAN
Guru Sebagai Panggilan Jiwa

A.    Pengertian Guru
Di dalam dunia pendidikan tak pernah terlepas dari sosok yang bernama guru. Orang jawa menyebut bahwa guru berasal dari kata ‘digugu lan ditiru’, artinya bahwa seorang guru harus bias dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif, baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya di sekolah.
Orang ang memilki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan pada akhirna dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagaiY tujuan akhir dari proses pendidikan.[1]
B.     Guru dan Tugas Panggilan Jiwa
Guru adalah panggilan jiwa maka yang terjadi ialah profesi guru dihayati sedemikian rupa, dinikmati dengan segenap semangat pengabdian dan prestasi serta sanggup mengalahkan godaan-godaan profesi Lain yang secara materi lebih menjajikan. Seorang guru harus mau berfikir bagaimana seharusnya system pendidikan dibangun dan dikembangkan. Kaplau diperlukan siap mengabdikan dirinya menjadi guru didaerah terpencil dan mampu berprestasi baik secara akademis.
Sebagian guru melakukan tugas dikarenakan oleh surat yang diterimanya dari satu lembaga, sebagian yang lain ia melakukan tugas mengajar karena tanpa surat, dari satu kelas ke kelas lain, dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Sama-sama mengajar, tetapi pada sisi tertentu mereka berbeda, dan ini akan berakibat pada bagaiamana mereka bekerja atau mengajar di depan kelas.
Pada dasarnya benar bahwa guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya mengajar, mendidik dan melatih peserta didik, serta memenuhi kompetensi sebagai orang yang patut digugu dan ditiru dalam ucapan dan tingkah lakunya.
Untuk itu tidak dapat dipisahkan bagaimana seorang guru harus mengajar saja, atau mendidik saja, atau bahkan melatih saja. Padahal ketigana sama-sama menjadi bagian dari tugas guru. Tentu juga hal ini tergantung pada bagaimana guru memaknai dirinya, atau mempersepsi diri sebagai tenaga pengajar, pendidik atau pelatih tadi.seperti dalam satu pendapat bahwa konsep diri positif guru merupakan modal ruhaniah bagi seorang guru untuk menjadikan dirinya sendiri efektif dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih siswa.
Ketiga hal diatas dapat dilakukan secara bersama, dengan mengkedepankan tujuan pendidikan, sedikitna ada tiga hal penting yang harus dilakukan seorang guru dimana dia melakukan tugas sebagai sebuah panggilan jiwa. Ketiga hal tersebut adalah:
-          Mengajar dengan hati
Guru yang melakukan tugas mengajar dengan hati dapat dijabarkan sebagai sebuah keadaan, dimana guru melakukan kegiatan baik merencanakan pendidikan, melaksanakan dan mengembangkan pembelajaran serta menilai muridnya adalah dikarenakan hatinya. Karena hati maksudnya memang dating dari kesadarannya bahwa ia melakukan karena sudah tugasnya. Bukan karena hitungan gaji, bukan karena fikira mencari imbalan dan lain sebaginya. Mengajar dengan hati adalah salah satu filar dimana guru bertugas sebagai panggilan jiwa.
-          Mengajar dengan keikhlasan
Guru yang melaksanakan tugas lebih mengkedepankan keikhlasan tampak ketika ia merencanakan kegiatan pembelajaran adalah dikarenakan memang tugas dirinya, bukan karena muridnya yang baik-baik,bukan karena sekolahnya yang nyaman, atau bukan karena gaji yang mencukupi. Keikhlasan akan tampak pada seorang guru khususnya dalam mengahapi masalah keguruan. Adalah tanpa membandingkan bandingan satu sekolah dengan sekolah lain, tanpa membandingkan dirinya dengan profesi lain. Sebagai seorang guru harus ikhlas mengajar apapun resiko yang dihadapinya. Itula inti dari bahwa mengajar karena panggilan jiwa bukan karena panggilan gaji dan sebagainya.
-          Mengajar untuk masa depan
Guru yang melaksanakan tugas untuk mengajar, selalu memikirkan bagaimana menciptakan anaka didik yang siap hidup di masa depan. Maka kurikulum dan rencana pengajaran disusun sedemikian rupa, pengelolaan pengajaran dikembangkan dengan contoh-contoh yang diadaptasi untuk masa depan.
C.    Guru dan tugas kemanusiaan
Sebagian waktu yang dimilki orang tua adalah untuk mendidik anak dirumah, akan tetapi karena kesadarannya ia member tanggung jawab kepada guru di sekolah. Ketika disekolah tentulah guru melakukan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan aturan dan ketentuan. Aturan tersebut mengikat dirinya ada hak-hak yang harus diperolehnya, dan ada pula kewajiban-kewajiban yang  harus dipenuhinya. Inilah berfikir menakistik, dimana guru adalah pekerja ang bertugas mengambil alih waktu dari orang tua ketika keluar rumah atau jam sekolah.
Dalam tugas kemanusiaan berfikir bahwa guru dengan tugas semata adalah hak dan kewajiban  selama di sekolah atau menggantikan orang tua, hal ini sulit untuk diterima. Guru dengan panggilan jiwanya ia memiliki tugas kemanusiaan yang lebih besar dari itu. Betapa tidak, kita sadar; tidak akan akan maju suatu bangsa tanpa dihuni oleh orang- orang berakhlak mulia dan cerdas serta terampil. Sedangkan untuk memajukan pendidikan  kuncinya adalah ada pada guru. Karena itulah sesungguhnya guru merupakan kekuatan penggerak yang amat strategis untuk mengubah masyarakat atau bangsa ini. (Imam, 2011:313)
Jadi tugas guru adalah tidak sekedar menyampaikan ilmu sebatas murid di kelasnya, sebatas rung di kelasnya, dan sebatas kurikulum di kelasnya. Lebih dari itu guru dapat mendidik dunia di luar kelas, untuk itu sedikitnya ada tiga hal penting yang dapat dilakukan guru yang mendidik sebagai tugas kemanusiaan yakni sebagai berikut:

-          Mendidik dengan melihat keadaan
Apapun yang dihadapan guru, siapapun yang add didepannya, adalah satu keadaan yang menjadi pertimbangan awal untuk melakukan kegiatan pendidikan. Seorang guru yang mengajar berangkat dari keadaan akan lebih bermanfaat ilmu yang akan disampaikan, dibanding dengan banyaknya khayalan atau nilai- nilai normatif yang jauh dan bahkan akhirnya sulit untuk dijangkau. Jadi mendidik dengan melihat keadaan, adalah satu rumus dimana guru harus selalu berangkat dari kondisi dimana murid sedang berada, tingkat kemampuan dan keadaan di sekitarnya menjadi ukuran start dimulai pembelajaran. Itulah yang disebut guru melaksanakan tugas pendidikan sebagai tugas kemanusiaan.

-          Mendidik dengan memperdayakan lingkungan pendidikan,
Situasi apapun yang ada ketika melaksanakan kegiatan pendidikan, alangkah baiknya bila melibatkan segala apa yang ada di lingkungan baik fisik maupun non fisik. Guru yang baik, selalu memperhatikan lingkungan fisik, bila itu di kampung atau desa, maka dia mendayagunakan benda atau kondisi setempat untuk menjadi bahan pelajaran, media pembelajaran. Bila ia mengajar di kota atau masyarakat yang lebih modern, maka ia memanfaatkan teknologi atau berbagai fasilitas yang tersedia untuk menjadi instrumen pembelajaran. Jadi kegiatan pembelajaran selalu menjadikan lingkungan baik lingkungan alam, lingkungan masyarakat menjdi bagian dari pembelajarannya. Tugas kemanusiaan seorang guru tidak akan meninggalkan berbagai keadaaan dan lingkungan dari proses menciptakan murid yang berhasil untuk masa depannya.

-          Mendidik untuk kemaslahatan umat
Guru yang mengajar selalu mengembangkan berbagai inovasi, berbbagai temuan, berbagai hal yang kadang tidak ada sebelumnya, itu adalah kebaikan. Apalagi kebaikan itu diarahkan untuk memberikan kemudahanbagi orang lain, baik murid dimasa depannya. Kegiatan pendidikan atau mendidik murid pada hal- hal tertentu tidak semata- mata untuk kepentingan murid itu sendiri, apalagi sebatas untuk mata pelajran dikelas. Lebih dari itu kegiatan pendidikan mempunyai tujuan yang lebih luas yakni menciptakan sesuatu untuk kebaikan masyarakat, kemaslahatan dunia. Guru yang memilki fisi kemanusiaanlah yang dapat melakukan terobosan- terobosan ini. Jadi sekali lagi tugas kemanusiaan akan tampak pada seorang guru, apabila dia melakukan tugas mendidik dan mengajarnya adalah lebih dari sekedar untuk murid didipan kelas.

D.    Guru dan Tugas sebagai Ibadah
            Ketika bangsa mencapai puncak peradapan itu adalah harapan seluruh warga negaranya, ketika generasi muda siap menggantikan berbagai peran, itu adalah harapan seluruh orangtua, dan ketika anak bangsa memiliki kualitas sumber daya manusia itu adalah harapan semua guru dan dunia pendidikan. Untuk mencapai berbagai harapan diatas, tentu tidaklah mudah, salah satunya debgan membuat komitmen bahwa pendidika atu tugas guru tidak hanya sebatas menyampaikan satu materi pelajaran. Lebih dari itu guru memiliki komitmen bahwa ap yang dilakukannya adalah bagian dari tugas masa depan bangsa.
            Profesi mengajar tidak dapat disampaikan oleh satu profesi lain pun dalam hal keutamaan dan kedudukan, dan profesi (sebagai) pengajar termasuk semulia- mulia dan seluhur- luhurnya profesi. (Fu’ad, 2010: 1). Sampai pada tingkat mengajar sekalipun, guru tidak bertugas sendiri, tidak menentukan apa yang akan menjadi tujuan kerjanya secara sendiri- sendiri, dia adalah bagian dunia yang lebih luas. Karena perannya memang begitu penting bagi upaya membangun peradaban dunia.
            Dalam kaitannya dengan kegiatan mengajar, ada beberapa aspek penting yang bernilai spritual yakni; 1) Niat, 2) Doa, 3) Ikhlas. (Ngainun, 2009: 127). Karena mengajar adalah panggilan jiwa, maka salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah bagaimana guru menjadikan tugas mengajar adlah bagian dari kebutuhan, tugas kemuliaan untuk mendapatkan keridhoaan Tuhan.
             Tugas mengajar sebagai bagian dari ibadah tadi dapat dijabarkan sebagai berikut:
-          Mengajar adalah kebutuhan
Kebutuhan untuk mengajar bukan semata karena roster yang diberikan oleh kepala sekolah, bukan sekedar untuk mendapatkan gaji diakhir bulan, atau untuk mendapatkan gengsi, dan sebagainya. Guru yang baik adalah guru yang mempunyai kkebutuhan untuk menyamaikan apapun dalam gagasan, ilmu dan keterampilan untuk generasi muda. Sehingga panggilan jiwanya menyatu pada tugas guru dan menjadi ibadah karena keikhlasan yang dilakukannya. Inilah salah satu ciri guru yang apabila mengajar justru jdi masalah.
-          Mendidik adalah tugas kemuliaan
Ada guru yang mengajar dapat dilakukan kapan saja, kepada siapa saja, tetapi ada guru yang apabila ingin memulai mengajar ia mempersiapkan sedemikian rupa, berbagai persiapan tersebut salah satunya adalah dengan berdoa, bahkan di akhir pengajarannya ia melaksanakan sedikit spritual, yakni berdoa juga. Dua prilaku guru yang berbeda ini, salah satunya disebabkan oleh paradigma profesi yang ia miliki. Guru pertama menganggap bahwa kegiatan mengajar lebih kepada keterampilan, untuk itu kemampuannya menyampaikan banyak materidengan sedikit menomorduakan prosedur apalagi makna mengajar yang lebih luas. Sementara guru lebih mengedepankan aturan, pemaknaan bahkan penanaman nilai arti mengajar dan belajar.
Seorang guru yang mengajar dengan niat ikhlas, tentu ia akan menjadikan kegiatan ini bagian dari ibadahnya, dengan itulah ia menjalankan tugas yang mulia baik untuk profesinya, untuk dunia pendidikan dan umat manusia. Jadi tugas kemu;iaan guru akan muncul dengan sendirinya pada seorang guru yang melaksanakan tugas dengan baik, dan nilai ibadah telah menunggu di setiap langkah yang dilakukannya.

-          Mendidik dan mengajar untuk mendapat keridhoaan
Mendidik dan mengajar sebagai tugas seorang guru, sekali lagi benar adalah sebuah profesi, akan tetapi imbalan yang akan diperoleh tidak dapat diukur semata dengan materi, dengan promosi kenaikan pangkat. Lebih dari itu tugas utama guru ini adalah dipersembahkan untuk dirinya, untuk umat, dan untuk Tuhan, akhirnya keridhoaannyalah yang ia harapkan dan dapatkan.[2]

E.     Peran Guru
-          Korektor, Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk.
-          Inspirator, Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik.
-       Informator, Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
-       Organisator, Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru.
-       Motivator, Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
-       Inisiator, Dalam peranannya sebagai inisiator  guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
-        Fasilitator, Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.
-       Pembimbing, Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap.
-       Demonstrator, Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.
-       Pengelola Kelas, Sebagai pengelola kelas, hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
-        Mediator, Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif.
-       Supervisor, Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
-       Evalutor, Sebagai evaluater, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik.[3]
F.     Perbedaan guru sebagai profesi dan panggilan jiwa
1. Guru sebagai profesi
a.  Mengajar lebih cenderung menjadikan anak pandai tentang ilmu pengetahuan saja.
b. Hanya berusaha menghabiskan kurikulum atau silabus yang telah ditetapkan tanpa mau tahu apakah anak didik sudah mampu menyerap apa yang diajarkan
c.  Lebih banyak memikirkan honor dibandingkan hasil belajar anak.
d. Biasanya memilih-milih anak didik. Kelas yang anak-anaknya ramai atau lambat dalam menerima materi akan dijauhi.
e.  Tidak sabar, apalagi menghadapi anak didik yang lambat.
f.  Mengajar menjadi suatu beban.

2.  Guru sebagai panggilan nurani (jiwa)
a. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga membangun dan membina jiwa dan watak anak didik.
b.  Berusaha menghabiskan kurikulum yang ada namun tetap memperhatikan kemampuan daya serap anak didik.
c.  Honor menjadi urusan kesekian yang terpenting ialah prestasi anak baik.
d. Menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siapa saja dan di mana saja. Tidak peduli dengan bagaimana keadaan kelas dan anaknya karena sudah menjadi tugas guru untuk mengubah anak didik menjadi lebih baik.
e.  Akan sabar mengajar anak didik sampai anak didik benar-benar bisa.
f.  Mengajar menjadi suatu kesenangan bukan sebagai beban.
                                                                  







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bagi guru yang mengajar dengan panggilan jiwa tugas mengajar menjadi suatu kesenangan, Guru yang mengajar dengan panggilan jiwa akan sabar mengajar anak didik sampai anak didik benar-benar bisa, Guru Panggilan jiwa dalam mencari jam terbang banyak untuk menyebarkan ilmu sebanyak-banyaknya dan tanpa pamrih, panggilan jiwa menyampaikan ilmu kepada siapa saja dan dimana saja,
 Namun Bagi profesi mengajar menjadi suatu beban/kewajiban, Guru profesi akan memilih jam terbang sebanyak-banyaknya demi bayaran, Guru profesi memilih-milih anak didik, Guru profesi hanya berusaha menghabiskan kurikulum atau Silabus yan telah ditetapkan. Tanpa  mau tahu apakah si anak didik sudah mampu menyerap apa yang diajarkan. 













DAFTAR PUSTAKA

Amini.2013. Profesi Keguruan. Medan: Perdana Publishing.
D Syaiful Bahri, 2000.Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif . Jakarta: PT    Rineka cipta.
Suprihatiningrum Jamil, 2013. Guru professional , Yogyakarta : Ar-ruzz Media 


[1] Jamil suprihatiningrum. Guru Profesional (ogakarta: Ar-ruzz Media).2013 hal 24
[2] Amini.Profesi Keguruan.(Medan:Perdana Publishing).2013.hal.126-131
[3] Syaiful Bahri D, Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif  (Jakarta: PT Rineka cipta) 2000.  hal 43-48

LATAR BELAKANG PERLUNYA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH



BAB I
PENDAHULUAN
Seiring perkembangan zaman problematika peserta didik di sekolah semakin beragam. Jalan pikiran mereka menjadi terbagi dengan masalah diluar sekolah dan di dalam sekolah. Suatu tindak layanan sekolah pada peserta didik dengan bimbingan konseling yang mengarahkan para peserta didik untuk mengetahui bakat dan potensi dalam diri mereka.
Bimbingan konseling biasanya berbicara mengenai aspek psikologis, ini akan sangat penting jika ada banyak gangguan psikis pada peserta didik yang biasanya tertekan masalah dan tidak mampu menangkap pelajaran dengan baik. Bimbingan konseling juga sangat penting posisinya untuk membimbing siswa untuk memotivasi diri bahwa mereka adalah suatu pribadi yang unik dan mampu bersaing.
Perlunya bimbingan konseling dapat berfungsi sebagai pemantau masalah-masalah siswa yang berkaitan tentang masalah kelainan tingkah laku dan adaptasi. Sulitnya salah satu siswa untuk bergaul dan cenderung mengasingkan diri dari teman-temannya memiliki akar permasalahan yang biasanya beruntun.















BAB II
PEMBAHASAN
LATAR BELAKANG PERLUNYA BIMBINGAN KONSELING DI SEKOLAH
Seiring perkembangan zaman, problematika peserta didik di sekolah semakin beragam. Jalan pikiran mereka menjadi terbagi dengan masalah diluar sekolah dan di dalam sekolah. Suatu tindak layanan sekolah pada peserta didik dengan bimbingan konseling yang mengarahkan para para peserta didik untuk mengetahui bakat dan potensi dalam diri mereka.
Bimbingan konseling biasanya berbicara mengenai aspek psikologis, ini akan sangat penting jika ada banyak gangguan psikis pada peserta didik yang biasanya tertekan masalah dan tidak mampu menangkap pelajaran dengan baik. Bimbingan konseling juga sangat penting posisinya untuk membimbing siswa untuk memotivasi diri bahwa mereka adalah suatu pribadi yang unik dan mampu bersaing.
Perlunya bimbingan konseling dapat berfungsi sebagai pemantau masalah-masalah siswa yang berkaitan tentang masalah kelainan tingkah laku dan adaptasi. Sulitnya salah satu siswa untuk bergaul dan cenderung mengasingkan diri dari teman-temannya memiliki akar permasalahan yang biasanya beruntun.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah; guru merupakan salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Peserta didik tidak hanya memerlukan materi – materi pelajaran sekolah, materi bimbingan konseling pun perlu, karena pada dasarnya setiap kehidupan pasti ada masalah. Memang sebagian orang bisa mengatasi masalahnya sendiri, tetapi tidak sedikit juga orang yang memerlukan bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah – masalah tersebut. Jadi apabila peserta didik tetap dibiarkan memiliki masalah tanpa dibantu, bagaimana mungkin peserta didik  bisa berkonsentrasi untuk memahami atau berfikir mengenai pelajarannya. Kalau ia masih punya beban fikiran yang lain. Maka dari itu bimbingan dan konseling disekolah sangatlah diperlukan.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi muncul dan diperlukannya bimbingan dan konseling:
1.      Latar Belakang Psikologis
Latar belakang psikologis dalam BK memberikan pemahaman tentang tingkah laku individu yang menjadi sasaran (klien). Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan konseling adalah tingkah laku klien, yaitu tingkah laku yang perlu diubah atau dikembangkan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.[1]
Peserta didik sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksi dengan lingkungannya. Di samping itu, peserta didik senantiasa mengalami berbagai perubahan sikap dan tingkah lakunya. Proses perkembangan tidak selalu berlangsung secara linier (sesuai dengan arah yang diharapkan atau norma yang dijunjung tinggi), tetapi bersifat fluktuatif dan bahkan terjadi stagnasi atau diskontinuitas perkembangan.[2]
Latar belakang dari segi psikologis menyangkut masalah perkembangan individu, perbedaan individu, kebutuhan individu penyesuaian diri serta masalah belajar.
2.      Latar Belakang Sosial Budaya
Individu merupakan biopsikososiospiritual, yang artinya bahwa individu makhluk biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Setiap anak sejak lahir tidak hanya mampu memenuhi tuntutan biologisnya, tepapi juga tuntutan budaya di mana individu itu tinggal, tuntutan budaya itu dilakukan agar segala dampak modrenisasi dapat di filter oleh individu tersebut secara otomatis, serta individu diharapkan dapat menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan budaya yang sudah ada, agar dapat di terima dengan baik oleh lingkungan tersebut. Untuk mengembangkan semua kemampuan penyesuaian tersebut, sangat diperlukan sebuah bimbingan.
Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya mengatakan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan latar belakang berlandaskan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.[3]
3.      Latar Belakang Agama
Setiap individu merupakan makhluk Tuhan yang pada dasarnya sama memiliki fitrah sebagai khalifah dan hamba-Nya. Dalam kategori ini pun, sangat diperlukan sekali bimbingan terhadap setiap tantangan dimensi spiritualitas individu, seperti: dekadensi moral, budaya hedonistik, dan penyakit hati. Bimbingan dalam hal ini diperuntukan agar setiap individu mampu memandang setiap tantangan kearah positif bukan malah terjerumus kearah negative, sehingga kehidupan dapat dijalani sesuai dengan kaidah-kaidah agama.
Dalam landasan agama, bimbingan dan konseling diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:                       
a.       Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan
b.      Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama
c.       Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu
Landasan religius bimbingan dan konseling pada dasarnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan segenap kemuliaannya menjadi fokus sentral upaya bimbingan dan konseling. Pembahasan landasan religius ini, terkait dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam proses bimbingan dan konseling.

4.      Latar Belakang Pendidikan

Bimbingan dan konseling diperlukan untuk mengembangkan pendidikan yang bersifat meninggi, meluas dan mendalam. Meninggi artinya membantu membimbing individu memilih jenjang pendidikan yang lebih tepat, karena semakin bertambahnya kesempatan dan kemungkinan untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Serta sangat diperlukan untuk membuat individu lebih mandiri  dan berkembang secara optimal dalam berbagai bimbingan, seperti: bimbingan pribadi, sosial, belajar dan bimbingan karir melalui berbagai jenis kegiatan bimbingan, sehingga pendidikan dapat berjalan dengan lancar dengan adanya bimbingan dan konseling.
Arah meluas tampak dalam pembagian sekolah dalam berbagai jurusan khusus dan sekolah kejuruan. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan bimbingan untuk memilih jurusan yang khusus dan memilih bidang studi yang tepat bagi setiap murid. Arah mendalam tampak dalam berkembangnya ruang lingkup dan keragaman disertai dengan pertumbuhan tingkat kerumitan dalam tiap bidang studi. Hal ini menimbulkan masalah bagi murid untuk mendalami tiap bidang studi dengan tekun. Perkembangan ke arah ini bersangkut paut pula dengan kemampuan dan sikap serta minat murid terhadap bidang studi tertentu. Ini semua menimbulkan akibat bahwa setiap murid memerlukan perhatian yang bersifat individual dan khusus. Dalam hal ini pula terasa sekali kebutuhan akan bimbingan di sekolah.[4]
Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran), akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. Kegiatan pendidikan yang diinginkan seperti tersebut di atas, adalah kegiatan pendidikan yang ditandai dengan pengadministrasian yang baik, kurikulum beserta proses belajar mengajar yang memadai, dan layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan.
Dalam hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan, yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. Dengan demikian maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang baik secara akademik, psikologis, maupun sosial.
Ada tiga hal pokok yang menjadi latar belakang perlunya bimbingan dilihat dan segi pendidikan.
v  Pertama adalah dilihat dan hakikat pendidikan sebagai suatu usaha sadar dalam mengembangkan kepribadian. Hal ini mengandung implikasi bahwa proses pendidikan menuntut adanya pendekatan yang lebih luas dari pada sekedar pengajaran. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling.
v  Kedua, pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis dan karenanya selalu terjadi perubahan perubahan dan penyesuaian dalam komponen-komponennya. Menghadapi perkembangan ini para siswa sebagai subjek didik memerlukan bantuan dalam penyesuaian diri melalui layanan bimbingan.
v  Ketiga pada hakikatnya guru mempunyai peranan yang tidak hanya sebagai pengajar,tetapi lebih luas dari itu, yaitu sebagai pendidik. Sebagai pendidik, maka guru harus dapat menggunakan pendekatan pribadi dalam mendidik para siswanya. Pendekatan pribadi ini diwujudkan melalui layanan bimbingan.

5.      Latar Belakang Perkembangan IPTEK

Di era ini ilmu pengetahuan, informasi dan teknologi berkembang sangat pesat, oleh karena itu diperlukannya Bimbingan dan Konseling, agar individu dapat mengetahui dampak positif dan negatifnya dari perkembangan tersebut. Lewat Bimbingan dan Konseling, individu diarahkan kepada dampak positif dari IPTEK  yang lebih ditujukan pada penerapan teknologi yang harus dimilliki dan dikuasai karena semakin kompleksnya jenis-jenis dan syarat pekerjaan serta persaingan antar individu.
Dengan teknologi jaringan tidak hanya mata kuliah atau bidang studi saja yang bisa memanfaatkan teknologi tinggi, melainkan hampir sebagian besar proses belajar mengajar termasuk BK (Bimbingan Konseling) atau Bimbingan Karier sudah bisa memanfaatkan teknologi.
Terkait sasaran layanan makin kompleks, diperlukan pelayanan BK yang profesional. Salah satu syarat pekerjaan profesional itu adanya komitmen menerapkan keahlian. Lembaga ataupun sekolah harus selalu menyiapkan guru BK yang adaptif dengan perubahan iptek sehingga teori yang dipelajari relevan dengan tugas BK.
Dengan teknologi khususnya jaringan komputer baik Intranet maupun Internet proses belajar mengajar, proses interaksi antara konselor dan klien bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan demikian peran teknologi tinggi dalam dunia pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan maksimal.

Bimbingan merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memiliki kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan disekolah (Juntika,2005).  Berdasarkan pernyataan di atas dapat dipahami bahawa proses pendidikan disekolah termasuk madrasah tidak akan berhasil secara baik apabila tidak didukung oleh penyelenggaraan bimbingan secara baik pula.[5]
Sekolah dan madrasah memiliki tanggung jawab yang besar membantu siswa agar berhasil dalam belajar. Untuk itu sekolah dan madrasah hendaknya memberikan bantuan kepada siswa untuk mengtasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar siswa. Dalam kondisi seperti ini, pelayanan bimbingan dan konseling sekolah dan madrasah sangat penting untuk dilaksanakan guna membantu siswa mengatasi berbagai masalah yang dihadapinya.
Secara umum masalah-masalah yang dihadapi oleh individu khususnya oleh siswa di sekolah dan madrasah sehingga memerlukan bimbingan dan konseling adalah: (1) masalah-masalah pribadi, (2) masalah belajar (masalah-masalah yang menyangkut pembelajaran), (3) masalah pendidikan, (4) masalah karir atau pekerjaan, (5) penggunaan waktu senggang, (6) masalah-masalah sosial dan lain sebagainya.[6]
Pelayanan bimbingan dan konseling telah menjadi salah satu pelayanan yang penting dan dibutuhkan disetiap sekolah termasuk madrasah. Menurut Suradi (1996) dan Salwa (2004) ada sepuluh alasan mengapa pelayanan bimbingan konseling perlu diadakan khususnya disekolah yaitu :
1.      Membantu siswa agar berkembang dalam semua bidang
2.      Membantu siswa untuk membuat pilihan yang sesuai pada semua tingkatan sekolah
3.      Membantu siswa membuat perencanaan dan pemilihan karier di masa depan (setelah tamat)
4.      Membantu siswa membuat penyesuaian yang baik disekolah dan juga diluar sekolah
5.      Membantu dan melengkapi upaya yang dilakukan orang tua di rumah
6.      Membantu mengurangi atau mengawasi dan kelambanan dalam sistem pendidikan
7.      Membantu siswa yang memerlukan bantuan khusus
8.      Menambah daya tarik sekolah terhadap masyarakat (user)
9.      Membantu sekolah  dalam mencapai sukses pendidikan (akademik) baik pada tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi; dan
10.  Membantu mengatasi masalah disiplin pada siswa.
Paparan di atas menjelaskan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling perlu diadakan disekolah-sekolah karena pelayanan ini dapat membantu para siswa mencapai tujuan yang diinginkan, membantu siswa untuk meningkatkan pencapaian akademik dan mengembangkan siswa untuk meningkatakan pencapaian akademik dan mengembangakan potensi yang ada pada diri mereka agar mereka dapat menghasilkan perubahan positif dalam dirinya sendiri. Selain itu, melalui pelayan bimbingan dan konseling, para siswa disekolah dan madrasah juga berpeluang untuk menyatakan perasaan dan berbagai masalah yang mereka hadapi kepada guru bimbingan konseling.[7]














BAB III
PENUTUP
A.    SIMPULAN
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.
Perkembangan zaman (Globalisasi) menimbulkan perubahan dan kemajuan dalam masyarakat. Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah; guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana pendidikan yang mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan konseling di sekolah.
Bimbingan dari kata guidance yang berarti mengarahkan, memandu, mengelola dan menyetir. Faktor-faktor yang melatarbelakangi perlunya bimbingan dan konseling, yaitu:
    1. Latar belakang Psikologis
    2. Latar belakang Sosial budaya
    3. Latar belakang Agama
    4. Latar belakang Pendidikan
    5. Latar belakang Perkembangan IPTEK





DAFTAR PUSTAKA

Prayitno dan Erman Amti. Dasar–Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.1999.

Tohirin. Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2013

Yusuf, Syamsu, dan A. Juntika Nurihsan. Landasan Bimbingan Dan Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009.



[1] Prayitno. Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), Hal. 170
[2] Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan Dan Konseling, Hal : 157-158
[3] Syamsu Yusuf dan A. Nurishan Juntika, Landasan Bimbingan dan Konseling, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006) h. 57
[4] Ibid, 123-124
[5] Tohirin, Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah (Berbasis Integrasi), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), Hal: 11
[6] Ibid, Hal: 11
[7] Ibid, Hal : 13