Senin, 15 Juni 2015

Makalah Guru Sebagai Panggilan Jiwa



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Berbicara tentang guru adalah topik yang takkan pernah habis untuk dibicarakan. Kisah perjalanan profesi guru terus berjalan seiring berjalannya waktu. Pasang surut terus terjadi dari masa ke masa. Dulu profesi guru bukannlah jenis pekerjaan yang disukai dan diminati banak orang. Untuk menjadi seorang guru, orang tersebut harus benar-benar bermental baja, siap berkorban,puna kesabaran yang tinggi dan harus siap diupah dengan bayaran yang rendah atau bahkan bagi guru non formal kadang kala harus menunggu uluran tangan orang tua anak ang didikna karena ia tak pernah menetapkan tarif bayaran untuk anak didiknya.
Kalau bukan karena panggilan jiwa, sepertinya sangat sulit bagi seseorang untuk memilih guru menjadi profesinya. Faktanya banyak factor ang membuat seseorang mau menjadi guru. Ada yang menjadikan guru sebagai profesi, namun banyak juga yang menjadi guru karena panggilan nurani. Seseorang yang benar-benar ingin memberikan ilmunya kepada anak didiknya sebagai calon penerus bangsa secara tulus. Sosok manusia yang mengabdikan diri berdasarkan panggilan jiwa maupun hati nurani bukan karena tuntutan material belaka, itulah profil guru ideal yang sesungguhnya.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka diambil sebuah rumusan masalah sebagai berikut : guru sebagai panggilan jiwa.





BAB II
PEMBAHASAN
Guru Sebagai Panggilan Jiwa

A.    Pengertian Guru
Di dalam dunia pendidikan tak pernah terlepas dari sosok yang bernama guru. Orang jawa menyebut bahwa guru berasal dari kata ‘digugu lan ditiru’, artinya bahwa seorang guru harus bias dipercaya dan ditiru setiap hal yang positif, baik dari segi keilmuan yang dikuasainya hingga sikap dan etikanya di sekolah.
Orang ang memilki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan pada akhirna dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagaiY tujuan akhir dari proses pendidikan.[1]
B.     Guru dan Tugas Panggilan Jiwa
Guru adalah panggilan jiwa maka yang terjadi ialah profesi guru dihayati sedemikian rupa, dinikmati dengan segenap semangat pengabdian dan prestasi serta sanggup mengalahkan godaan-godaan profesi Lain yang secara materi lebih menjajikan. Seorang guru harus mau berfikir bagaimana seharusnya system pendidikan dibangun dan dikembangkan. Kaplau diperlukan siap mengabdikan dirinya menjadi guru didaerah terpencil dan mampu berprestasi baik secara akademis.
Sebagian guru melakukan tugas dikarenakan oleh surat yang diterimanya dari satu lembaga, sebagian yang lain ia melakukan tugas mengajar karena tanpa surat, dari satu kelas ke kelas lain, dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Sama-sama mengajar, tetapi pada sisi tertentu mereka berbeda, dan ini akan berakibat pada bagaiamana mereka bekerja atau mengajar di depan kelas.
Pada dasarnya benar bahwa guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya mengajar, mendidik dan melatih peserta didik, serta memenuhi kompetensi sebagai orang yang patut digugu dan ditiru dalam ucapan dan tingkah lakunya.
Untuk itu tidak dapat dipisahkan bagaimana seorang guru harus mengajar saja, atau mendidik saja, atau bahkan melatih saja. Padahal ketigana sama-sama menjadi bagian dari tugas guru. Tentu juga hal ini tergantung pada bagaimana guru memaknai dirinya, atau mempersepsi diri sebagai tenaga pengajar, pendidik atau pelatih tadi.seperti dalam satu pendapat bahwa konsep diri positif guru merupakan modal ruhaniah bagi seorang guru untuk menjadikan dirinya sendiri efektif dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar, pendidik, dan pelatih siswa.
Ketiga hal diatas dapat dilakukan secara bersama, dengan mengkedepankan tujuan pendidikan, sedikitna ada tiga hal penting yang harus dilakukan seorang guru dimana dia melakukan tugas sebagai sebuah panggilan jiwa. Ketiga hal tersebut adalah:
-          Mengajar dengan hati
Guru yang melakukan tugas mengajar dengan hati dapat dijabarkan sebagai sebuah keadaan, dimana guru melakukan kegiatan baik merencanakan pendidikan, melaksanakan dan mengembangkan pembelajaran serta menilai muridnya adalah dikarenakan hatinya. Karena hati maksudnya memang dating dari kesadarannya bahwa ia melakukan karena sudah tugasnya. Bukan karena hitungan gaji, bukan karena fikira mencari imbalan dan lain sebaginya. Mengajar dengan hati adalah salah satu filar dimana guru bertugas sebagai panggilan jiwa.
-          Mengajar dengan keikhlasan
Guru yang melaksanakan tugas lebih mengkedepankan keikhlasan tampak ketika ia merencanakan kegiatan pembelajaran adalah dikarenakan memang tugas dirinya, bukan karena muridnya yang baik-baik,bukan karena sekolahnya yang nyaman, atau bukan karena gaji yang mencukupi. Keikhlasan akan tampak pada seorang guru khususnya dalam mengahapi masalah keguruan. Adalah tanpa membandingkan bandingan satu sekolah dengan sekolah lain, tanpa membandingkan dirinya dengan profesi lain. Sebagai seorang guru harus ikhlas mengajar apapun resiko yang dihadapinya. Itula inti dari bahwa mengajar karena panggilan jiwa bukan karena panggilan gaji dan sebagainya.
-          Mengajar untuk masa depan
Guru yang melaksanakan tugas untuk mengajar, selalu memikirkan bagaimana menciptakan anaka didik yang siap hidup di masa depan. Maka kurikulum dan rencana pengajaran disusun sedemikian rupa, pengelolaan pengajaran dikembangkan dengan contoh-contoh yang diadaptasi untuk masa depan.
C.    Guru dan tugas kemanusiaan
Sebagian waktu yang dimilki orang tua adalah untuk mendidik anak dirumah, akan tetapi karena kesadarannya ia member tanggung jawab kepada guru di sekolah. Ketika disekolah tentulah guru melakukan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan aturan dan ketentuan. Aturan tersebut mengikat dirinya ada hak-hak yang harus diperolehnya, dan ada pula kewajiban-kewajiban yang  harus dipenuhinya. Inilah berfikir menakistik, dimana guru adalah pekerja ang bertugas mengambil alih waktu dari orang tua ketika keluar rumah atau jam sekolah.
Dalam tugas kemanusiaan berfikir bahwa guru dengan tugas semata adalah hak dan kewajiban  selama di sekolah atau menggantikan orang tua, hal ini sulit untuk diterima. Guru dengan panggilan jiwanya ia memiliki tugas kemanusiaan yang lebih besar dari itu. Betapa tidak, kita sadar; tidak akan akan maju suatu bangsa tanpa dihuni oleh orang- orang berakhlak mulia dan cerdas serta terampil. Sedangkan untuk memajukan pendidikan  kuncinya adalah ada pada guru. Karena itulah sesungguhnya guru merupakan kekuatan penggerak yang amat strategis untuk mengubah masyarakat atau bangsa ini. (Imam, 2011:313)
Jadi tugas guru adalah tidak sekedar menyampaikan ilmu sebatas murid di kelasnya, sebatas rung di kelasnya, dan sebatas kurikulum di kelasnya. Lebih dari itu guru dapat mendidik dunia di luar kelas, untuk itu sedikitnya ada tiga hal penting yang dapat dilakukan guru yang mendidik sebagai tugas kemanusiaan yakni sebagai berikut:

-          Mendidik dengan melihat keadaan
Apapun yang dihadapan guru, siapapun yang add didepannya, adalah satu keadaan yang menjadi pertimbangan awal untuk melakukan kegiatan pendidikan. Seorang guru yang mengajar berangkat dari keadaan akan lebih bermanfaat ilmu yang akan disampaikan, dibanding dengan banyaknya khayalan atau nilai- nilai normatif yang jauh dan bahkan akhirnya sulit untuk dijangkau. Jadi mendidik dengan melihat keadaan, adalah satu rumus dimana guru harus selalu berangkat dari kondisi dimana murid sedang berada, tingkat kemampuan dan keadaan di sekitarnya menjadi ukuran start dimulai pembelajaran. Itulah yang disebut guru melaksanakan tugas pendidikan sebagai tugas kemanusiaan.

-          Mendidik dengan memperdayakan lingkungan pendidikan,
Situasi apapun yang ada ketika melaksanakan kegiatan pendidikan, alangkah baiknya bila melibatkan segala apa yang ada di lingkungan baik fisik maupun non fisik. Guru yang baik, selalu memperhatikan lingkungan fisik, bila itu di kampung atau desa, maka dia mendayagunakan benda atau kondisi setempat untuk menjadi bahan pelajaran, media pembelajaran. Bila ia mengajar di kota atau masyarakat yang lebih modern, maka ia memanfaatkan teknologi atau berbagai fasilitas yang tersedia untuk menjadi instrumen pembelajaran. Jadi kegiatan pembelajaran selalu menjadikan lingkungan baik lingkungan alam, lingkungan masyarakat menjdi bagian dari pembelajarannya. Tugas kemanusiaan seorang guru tidak akan meninggalkan berbagai keadaaan dan lingkungan dari proses menciptakan murid yang berhasil untuk masa depannya.

-          Mendidik untuk kemaslahatan umat
Guru yang mengajar selalu mengembangkan berbagai inovasi, berbbagai temuan, berbagai hal yang kadang tidak ada sebelumnya, itu adalah kebaikan. Apalagi kebaikan itu diarahkan untuk memberikan kemudahanbagi orang lain, baik murid dimasa depannya. Kegiatan pendidikan atau mendidik murid pada hal- hal tertentu tidak semata- mata untuk kepentingan murid itu sendiri, apalagi sebatas untuk mata pelajran dikelas. Lebih dari itu kegiatan pendidikan mempunyai tujuan yang lebih luas yakni menciptakan sesuatu untuk kebaikan masyarakat, kemaslahatan dunia. Guru yang memilki fisi kemanusiaanlah yang dapat melakukan terobosan- terobosan ini. Jadi sekali lagi tugas kemanusiaan akan tampak pada seorang guru, apabila dia melakukan tugas mendidik dan mengajarnya adalah lebih dari sekedar untuk murid didipan kelas.

D.    Guru dan Tugas sebagai Ibadah
            Ketika bangsa mencapai puncak peradapan itu adalah harapan seluruh warga negaranya, ketika generasi muda siap menggantikan berbagai peran, itu adalah harapan seluruh orangtua, dan ketika anak bangsa memiliki kualitas sumber daya manusia itu adalah harapan semua guru dan dunia pendidikan. Untuk mencapai berbagai harapan diatas, tentu tidaklah mudah, salah satunya debgan membuat komitmen bahwa pendidika atu tugas guru tidak hanya sebatas menyampaikan satu materi pelajaran. Lebih dari itu guru memiliki komitmen bahwa ap yang dilakukannya adalah bagian dari tugas masa depan bangsa.
            Profesi mengajar tidak dapat disampaikan oleh satu profesi lain pun dalam hal keutamaan dan kedudukan, dan profesi (sebagai) pengajar termasuk semulia- mulia dan seluhur- luhurnya profesi. (Fu’ad, 2010: 1). Sampai pada tingkat mengajar sekalipun, guru tidak bertugas sendiri, tidak menentukan apa yang akan menjadi tujuan kerjanya secara sendiri- sendiri, dia adalah bagian dunia yang lebih luas. Karena perannya memang begitu penting bagi upaya membangun peradaban dunia.
            Dalam kaitannya dengan kegiatan mengajar, ada beberapa aspek penting yang bernilai spritual yakni; 1) Niat, 2) Doa, 3) Ikhlas. (Ngainun, 2009: 127). Karena mengajar adalah panggilan jiwa, maka salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah bagaimana guru menjadikan tugas mengajar adlah bagian dari kebutuhan, tugas kemuliaan untuk mendapatkan keridhoaan Tuhan.
             Tugas mengajar sebagai bagian dari ibadah tadi dapat dijabarkan sebagai berikut:
-          Mengajar adalah kebutuhan
Kebutuhan untuk mengajar bukan semata karena roster yang diberikan oleh kepala sekolah, bukan sekedar untuk mendapatkan gaji diakhir bulan, atau untuk mendapatkan gengsi, dan sebagainya. Guru yang baik adalah guru yang mempunyai kkebutuhan untuk menyamaikan apapun dalam gagasan, ilmu dan keterampilan untuk generasi muda. Sehingga panggilan jiwanya menyatu pada tugas guru dan menjadi ibadah karena keikhlasan yang dilakukannya. Inilah salah satu ciri guru yang apabila mengajar justru jdi masalah.
-          Mendidik adalah tugas kemuliaan
Ada guru yang mengajar dapat dilakukan kapan saja, kepada siapa saja, tetapi ada guru yang apabila ingin memulai mengajar ia mempersiapkan sedemikian rupa, berbagai persiapan tersebut salah satunya adalah dengan berdoa, bahkan di akhir pengajarannya ia melaksanakan sedikit spritual, yakni berdoa juga. Dua prilaku guru yang berbeda ini, salah satunya disebabkan oleh paradigma profesi yang ia miliki. Guru pertama menganggap bahwa kegiatan mengajar lebih kepada keterampilan, untuk itu kemampuannya menyampaikan banyak materidengan sedikit menomorduakan prosedur apalagi makna mengajar yang lebih luas. Sementara guru lebih mengedepankan aturan, pemaknaan bahkan penanaman nilai arti mengajar dan belajar.
Seorang guru yang mengajar dengan niat ikhlas, tentu ia akan menjadikan kegiatan ini bagian dari ibadahnya, dengan itulah ia menjalankan tugas yang mulia baik untuk profesinya, untuk dunia pendidikan dan umat manusia. Jadi tugas kemu;iaan guru akan muncul dengan sendirinya pada seorang guru yang melaksanakan tugas dengan baik, dan nilai ibadah telah menunggu di setiap langkah yang dilakukannya.

-          Mendidik dan mengajar untuk mendapat keridhoaan
Mendidik dan mengajar sebagai tugas seorang guru, sekali lagi benar adalah sebuah profesi, akan tetapi imbalan yang akan diperoleh tidak dapat diukur semata dengan materi, dengan promosi kenaikan pangkat. Lebih dari itu tugas utama guru ini adalah dipersembahkan untuk dirinya, untuk umat, dan untuk Tuhan, akhirnya keridhoaannyalah yang ia harapkan dan dapatkan.[2]

E.     Peran Guru
-          Korektor, Sebagai korektor guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk.
-          Inspirator, Sebagai inspirator guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang baik.
-       Informator, Sebagai informator guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
-       Organisator, Sebagai organisator adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru.
-       Motivator, Sebagai motivator guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.
-       Inisiator, Dalam peranannya sebagai inisiator  guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
-        Fasilitator, Sebagai fasilitator guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.
-       Pembimbing, Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang telah disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi manusia dewasa susila yang cakap.
-       Demonstrator, Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha dengan membantunya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.
-       Pengelola Kelas, Sebagai pengelola kelas, hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat terhimpun semua anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru.
-        Mediator, Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif.
-       Supervisor, Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.
-       Evalutor, Sebagai evaluater, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik.[3]
F.     Perbedaan guru sebagai profesi dan panggilan jiwa
1. Guru sebagai profesi
a.  Mengajar lebih cenderung menjadikan anak pandai tentang ilmu pengetahuan saja.
b. Hanya berusaha menghabiskan kurikulum atau silabus yang telah ditetapkan tanpa mau tahu apakah anak didik sudah mampu menyerap apa yang diajarkan
c.  Lebih banyak memikirkan honor dibandingkan hasil belajar anak.
d. Biasanya memilih-milih anak didik. Kelas yang anak-anaknya ramai atau lambat dalam menerima materi akan dijauhi.
e.  Tidak sabar, apalagi menghadapi anak didik yang lambat.
f.  Mengajar menjadi suatu beban.

2.  Guru sebagai panggilan nurani (jiwa)
a. Selain mengajarkan ilmu pengetahuan juga membangun dan membina jiwa dan watak anak didik.
b.  Berusaha menghabiskan kurikulum yang ada namun tetap memperhatikan kemampuan daya serap anak didik.
c.  Honor menjadi urusan kesekian yang terpenting ialah prestasi anak baik.
d. Menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siapa saja dan di mana saja. Tidak peduli dengan bagaimana keadaan kelas dan anaknya karena sudah menjadi tugas guru untuk mengubah anak didik menjadi lebih baik.
e.  Akan sabar mengajar anak didik sampai anak didik benar-benar bisa.
f.  Mengajar menjadi suatu kesenangan bukan sebagai beban.
                                                                  







BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bagi guru yang mengajar dengan panggilan jiwa tugas mengajar menjadi suatu kesenangan, Guru yang mengajar dengan panggilan jiwa akan sabar mengajar anak didik sampai anak didik benar-benar bisa, Guru Panggilan jiwa dalam mencari jam terbang banyak untuk menyebarkan ilmu sebanyak-banyaknya dan tanpa pamrih, panggilan jiwa menyampaikan ilmu kepada siapa saja dan dimana saja,
 Namun Bagi profesi mengajar menjadi suatu beban/kewajiban, Guru profesi akan memilih jam terbang sebanyak-banyaknya demi bayaran, Guru profesi memilih-milih anak didik, Guru profesi hanya berusaha menghabiskan kurikulum atau Silabus yan telah ditetapkan. Tanpa  mau tahu apakah si anak didik sudah mampu menyerap apa yang diajarkan. 













DAFTAR PUSTAKA

Amini.2013. Profesi Keguruan. Medan: Perdana Publishing.
D Syaiful Bahri, 2000.Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif . Jakarta: PT    Rineka cipta.
Suprihatiningrum Jamil, 2013. Guru professional , Yogyakarta : Ar-ruzz Media 


[1] Jamil suprihatiningrum. Guru Profesional (ogakarta: Ar-ruzz Media).2013 hal 24
[2] Amini.Profesi Keguruan.(Medan:Perdana Publishing).2013.hal.126-131
[3] Syaiful Bahri D, Guru dan Anak didik dalam Interaksi Edukatif  (Jakarta: PT Rineka cipta) 2000.  hal 43-48

Tidak ada komentar:

Posting Komentar