Senin, 23 Maret 2015

(MAKALAH PRA SEKOLAH) TEORI-TEORI PENDIDIKAN ANAK MENURUT BEBERAPA TOKOH



BAB I
PEMBAHASAN
TEORI-TEORI PENDIDIKAN ANAK MENURUT BEBERAPA TOKOH

Pelaksanaan Pendidikan Anak Usia Dini di saat ini tidak terlepas dari teori-teori yang disampaikan oleh para ahli, baik ahli psikologi, filsuf, dan pemerhati pendidikan. Teori-teori serta aliran-aliran tersebut sangat membantu guru-guru saat ini dalam menghadapi Anak Usia Dini, metode apa yang harus dilakukan untuk mengajar anak, dan bagaimana menghadapi anak serta perilaku-perilakunya.
Terlaksananya Pendidikan Anak Usia Dini (selanjutnya ditulis PAUD) tidak dapat terlepas dari pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh pencetus PAUD itu sendiri. Tanpa pemikiran dari mereka, pendidikan anak usia dini mungkin saja masih tidak diperhatikan. Berikut adalah pemikiran-pemikiran (filosofi) tentang PAUD.

1.      Teori Howard Gardner (1943)
Teori Howard Gardner muncul dalam zaman kita hidup sekarang ini. Ia mengatakan bahwa pada hakekatnya setiap anak adalah anak yang cerdas. Pandangan ini menentang bahwa kecerdasan hanya dilihat dari factor IQ. Garden melihat kecerdasan dari berbagai dimensi. Setiap kecerdasan yang dimiliki akan dapat mengantarkan anak mencapai kesuksesan. Pendidik atau guru perlu memfasilitasi setiap kecerdasan yang dimiliki anak dalam pembelajaran dan kegiatan belajar.
Macam-macam kecerdasan menurut Gardner adalah :
a.       Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan.
Ciri-ciri:
o   Anda senang bermain dengan kata-kata, Anda menikmati puisi, Anda suka mendengarkan cerita.
o   Anda membaca apa saja; buku, majalah, surat kabar dan bahkan label produk.
o   Anda merasa mudah dan percaya diri mengekspresikan diri anda baik secara lisan maupun tulisan.
o   Anda suka membumbui percakapan anda dengan hal-hal menarik yang baru saja anda baca atau dengar.
o   Anda suka mengerjakan teka-teki silang, bermain scrable atau bermain puzzle.
b.      Kecerdasan Logika Matematika
Kecerdasan logika matematika ialah kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah. Ia mampu memikirkan dan menyusun solusi (jalan keluar) dengan urutan yang logis (masuk akal).
Ciri-ciri:
o   Anda senang bekerja dengan angka dan dapat melakukan perhitungan mental (mencongak).
o   Anda tertarik dengan kemajuan teknologi dan gemar melakukan percobaan untuk melihat cara kerja sesuatu hal.
o   Anda merasa mudah melakukan perencanaan keuangan. Anda menetapkan target dalam bentuk angka dalam bisnis dan hidup anda.
o   Anda senang menyiapkan jadwal perjalanan secara terperinci. Anda sering menyiapkan, memberi nomor dan menetapkan suatu daftar kerja (to-do-list).
o   Anda senang dengan permainan, puzzle atau sesuatu yang membutuhkan kemampuan berpikir logis dan statistis seperti permainan cheker atau catur.
c.       Kecerdasan Visual Dan Spasial
Kecerdasan visual dan spasial adalah kemampuan untuk melihat dan mengamati dunia visual dan spasial secara akurat (cermat).
Ciri-ciri:
o   Anda menyukai seni, menikmati lukisan dan patung, Anda memilki citra rasa yang baik akan warna.
o   Anda cenderung menyukai pencatatan secara visual dengan menggunakan kamera atau handycam.
o   Anda bisa menulis dengan cepat saat anda mencatat atau berpikir mengenai sesuatu.
o   Anda dapat menggambar dengan cukup baik.
o   Anda merasa mudah membaca peta atau melakukan navigasi, anda memilki kemampuan mengerti arah yang baik.


d.      Kecerdasan Musik
Kecerdasan musik adalah kemampuan untuk menikmati, mengamati, membedakan, mengarang, membentuk dan mengekspresikan bentuk-bentuk musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap ritme, melodi dan timbre dari musik yang didengar.
Ciri-ciri:
o   Anda dapat memainkan alat musik.
o   Anda dapat menyanyi sesuai dengan tinggi rendahnya kunci nada.
o   Anda mengikuti irama musik dengan baik dan tanpa sadar mengetuk-ngetukkan jari anda mengikuti irama lagu itu.
e.       Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain.
Ciri-ciri:
o   Anda senang bekerja sama dengan orang lain dalam suatu kelompok atau komite.
o   Anda lebih suka belajar kelompok dari pada belajar sendiri.
o   Orang sering kali datang kepada anda untuk meminta nasihat.
o   Anda lebih suka team sport seperti basket, soffball, sepak bola dari pada individual seperti renang dan lari.
f.       Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri. Dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri.
Ciri-ciri:
o   Anda memiliki buku harian untuk mencatat pikiran anda yang sangat dalam dan pribadi.
o   Anda sering menyendiri untuk memikirkan dan memecahkan masalah itu sendiri.
o   Anda menetapkan tujuan anda.
o   Anda adalah seorang pemikir independen (mandiri). Anda tahu pikiran anda dan anda memutuskan sendiri keputusan anda.
o   Anda mempunyai hobi atau kesenangan yang bersifat pribadi yang tidak banyak anda bagikan atau ungkapkan kepada orang lain.
g.      Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik ialah kemampuan dalam menggunakan tubuh kita secara terampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran dan perasaan.
Ciri-ciri:
o   Anda gemar berolahraga atau melakukan kegiatan fisik.
o   Anda cakap dalam melakukan sesuatu seorang diri.
o   Anda senang memikirkan persoalan sambil aktif dalam kegiatan fisik seperti berjalan atau lari.
o   Anda tidak keberatan jika diminta untuk menari.
h.      Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan dan membuat kategori terhadap apa yang di jumpai di alam maupun lingkungan.
Ciri-ciri:
o   Anda senang memelihara atau menyukai hewan.
o   Anda dapat mengenali dan membedakan nama berbagai jenis pohon, bunga dan tanaman.
o   Anda tertarik dan memilki pengetahuan yang cukup mengenai bagaimana tubuh bekerja di mana letak organ tubuh yang penting- dan anda mengerti akan kesehatan.
o   Anda tahu jalur atau jalan setapak, sarang burung dan hewan liar lainnya saat anda berjalan di alam dan anda bisa “membaca” cuaca.
o   Anda dapat membayangkan diri anda sebagai seorang petani atau mungkin anda suka memancing.
Menurut Gardner setiap anak memiliki peluang untuk belajar dengan gaya masing-masing anak. Bila hal ini dipenuhi maka anak akan berkembang dengan sukses.

2.      John Bowlby (1907 – 1990).
John Bowlby terkenal sebagai salah seorang pelopor teori Ethologi. Dia lahir di London. Dia merupakan seorang guru di Proggessive Schools for Children, yang memberi perawatan medis dan latihan psiko-analitik. Teori Bowlby yang tekenal adalah tentang teori kedekatan (attachment) Menurutnya, secara genetis anak akan dekat dan nyaman dengan ibunya. Anak juga dapat dekat dengan orang-orang yang dapat membuatnya nyaman dan membantunya untuk bertahan hidup. Salah satu attachment bayi adalah menangis ketika ditinggalkan pengasuhnya dan tersenyum ketika pengasuhnya datang atau memberi makan. Menurut Bowlby meskipun respon sosial bayi pada awalnya tanpa diskrimisasi. Anak yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh hubungan sosial dengan orang lain akan mempengaruhi perkembangan sosial anak.
Bila anak kehilangan kesempatan untuk megembangkan hubungan anak dengan lingkugan sosial selama periode bayi, maka mungkin hubungan sosial anak akan menjadi menyimpang setelah dewasa. Bayi yang kehilangan kontak yang memuaskan dengan manusia lain mereka akan kesulitan untuk mengembangkan tingah laku sosial yang sesuai. Pendidikan menurut Bowlby adalah melatih anak untuk bekerja sama dengan orang-orang di sekitar anak.

3.      Jean Piaget (1907 – 1980)
Piaget adalah ilmuwan dari Swis yang paling terkenal dan paling berkembang dalam teori yang mendukung pendidikan anak masa kini. Ia sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan, proses belajar dan berpikir.
Istilah kognitif mulai banyak dikemukakan ketika teori-teori Jean Piaget banyak ditulis dan dibicarakan pada kira-kira permulaan tahun 1960. Pengertian kognisis sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur intelek yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget sendiri mengemukakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan saja, melainkan interaksi antara keduanya. Dalam psikologi kognitif, bahasa menjadi salah satu objek-materialnya, karena bahasa merupakan perwujudan fungsi-fungsi kognitif.
Piaget melihat adanya sistem yang mengatur dari dalam, sehingga organisme mempunyai sistem pencernaan, peredaran darah, pernapasan, dan lain-lain. Hal seperti ini juga terjadi dalam sistem kognisi, sistem yang mengatur di dalam yang kemudian dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Sistem mengatur yang menetap terdapat sepanjang perkembangan seseorang.
Perkembangan kognitif dengan demikian mempunyai 4 aspek yaitu :
a.       Kematangan, Kematangan ini merupakan pengembangan dari susunan syaraf.
b.      Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya, dengan dunianya.
c.       Transmisi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial, misalnya cara pengasuhan dan pendidikan dari orang lain yang diberikan kepada anak.
d.      Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak, agar ia selalu mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Tahap-tahap perkembangan oleh Jean Piaget dibagi dalam masa-masa perkembangan sebagai berikut :
a)      Masa Sensori-motor (0-2 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem pengindraan dan aktivitas-aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya mengenal obyek-obyek. Contoh yang jelas dapat dilihat pada kemampuan bayi untuk menggerakkan otot-otot di sekitar mulut, gerakan mengenyot bilamana sedang menyusu. Jelas bahwa refleks yang diperlihatkan bayi bukan suatu kemampuan yang timbul dari hasil belajar dalam hubungan dengan lingkungan melainkan sesuatu kemampuan yang sudah ada ketika bayi dilahirkan. Dengan berfungsinya alat-alat indera serta kemampuan-kemampuan melakukan gerakan motorik dalam bentuk refleks, bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungan dengan dunianya.
b)      Masa Pra-operasional (2-7 tahun)
Perkembangan yang jelas terlihat pada masa ini berbeda dengan masa sebelumnya ialah kemampuan mempergunakan simbol. Fungsi simbolik, yakni kemampuan untuk mewakilkan sesuatu yang tidak ada, tidak terlihat dengan sesuatu yang lain atau sebaliknya sesuatu yang tidak ada. Fungsi simbolik ini bisa nyata atau abstrak. Dengan berkembangnya kemampuan mensimbolisasikan ini, anak memperluas ruang lingkup aktivitasnya yang menyangkut hal-hal yang sudah lewat, atau hal-hal yang akan datang, dan masa sekarang.
Pada akhir masa pra-operasional, dasar-dasar  pengelompokkan benda atas dasar sifat-sifat khusus dan benda-benda tersebut sudah bisa dilakukan, tetapi baru dengan satu dimensi saja. Piaget mengatakan anak-anal pada masa pra-operasional belum bisa memusatkan perhatian pada dua dimensi yang berbeda secara serempak.
c)      Masa Operasional Konkrit / konkrit-operasional (7-11 tahun)
Pada masa ini anak-anak sudah mulai bisa melakukan bermacam-macam tugas, misalnya menyusun tongkat-tongkat, dan menjawab pertanyaan mengenai konservasi angka maupun isi dengan benar.
Egosentrisme pada anak terlihat dari ketidakmampuannya untuk melihat pikiran dan pengalaman sebagai dua gejala yang masing-masing berdiri sendiri. Dalam perkembangan kognitif lebih lanjut anak-anak akan mencapai kemampuan untuk berpikir dalam dua komponen, yakni pikirannya mengenai realitas dan realitasnya sendiri.
d)     Masa Operasional Formal / formal-operasional (11-dewasa)
Masa ketika seorang anak memperkembangkan kemampuan kognitif untuk berpikir abstrak dan hipotesis. Pada masa ini anak bisa memikirkan hal-hal apa yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak dan menduga apa yang terjadi.
Piaget dengan teori-teorinya bermaksud menerangkan perkembangan kognisi pada anak-anak yang baru dilahirkan dan seterusnya lebih menghendakinya sebagai sumbangannya terhadap pengetahuan tentang kemanusiaan daripada sebagai penerapan teori-teorinya di dalam ruang kelas. Piaget menganggap hal belajar sebagai suatu proses yang aktif dan harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak. Belajar pada anak bukan sesuatu yang sepenuhnya bergantung pada guru.

4.      John Locke (1632-1704)
Jhon Locke hidup pada 1932-1704. Jhon Locke terkenal dengan teori yang dikemukakannya, yaitu teori “Tabula Rasa”. Teori ini memandang bahwa anak sebagai kertas putih. Teori ini memandang bahwa anak sejak lahir anak tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa. Anak berada dan hidup didalam lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap proses pembentukkan dirinya. Lingkunganlah yang membentuk dan memberi warna kertas putih. Warna atau isi ini sebagai pengalaman. Melalui pengalaman yang dimiliki anak saat berada di lingkungannya pada saat itu akan menentukan pola pikir dan sifat alami atau karakter anak. Jhon Locke sangat mempercayai bahwa untuk mendapatkan pembelajaran dari lingkungannya diperlukan  satu cara, yaitu mendapatkan pelatihan-pelatihan sensoris. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk kesiapan belajar (learning leardiness). Kesiapan inilah yang memengaruhi keberhasilan anak belajar kelak.
Aliran ini meyakini bahwa dengan memberikan pengalaman melalui didikan tertentu kepada anak, maka akan terwujudlah apa yang diinginkan. Sementara itu pembawaan yang berupa kemampuan dasar yang dibawa seseorang sejak lahir diabaikan sama sekali. Penganut aliran ini masih berkeyakinan bahwa manusia dipandang sebagai makhluk yang dapat dimanipulasi karena keberadaannya yang pasif. John Locke dalam teori “tabularasa” mengemukakan:
1)      Pada waktu manusia dilahirkan, keadaan akalnya masih bersih, ibarat kertas kosong yang belum bertuliskan apapun (tabula rasa).
2)      Pengetahuan baru muncul ketika indra manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam kehidupan.
3)      Kertas tersebut mulai bertuliskan berbagai pengalaman indrawi.
Pengalaman yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Dengan demikian, dipahami bahwa aliran empirisme ini, seorang pendidik memegang peranan penting terhadap keberhasilan belajar peserta didiknya. Pengalaman belajar yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan.


















BAB II
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Pendidikan anak usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan lingkungan yang kodusif dimana anak dapat mengeksplorasi dirinya , memberikan kesempatan padanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya melalui lingkungan melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang yang melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak.
Dengan adanya teori-teori dari para ahli mengenai perkembangan Anak Usia Dini, sangatlah membantu tenaga pengajar, khususnya pada PAUD untuk memahami bagaimana perkembangan anak, baik dari segi kognisi, motorik, sosial dan emosional.


















DAFTAR PUSTAKA

Nurani. Yuliani 2013. Konsep Dasar Pendidikan Usia Dini. Jakarta: PT Indeks.
Patmonodewo. Soemiarti 2008. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Yus. Anita 2011.  Model Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar