Senin, 07 Desember 2015

INTERAKSI SOSIAL SECARA ISLAMI

BAB I
PENDAHULUAN
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu dengan individu. Individu dengan kelompok. Kelompok dengan kelompok dll. Contoh, guru mengajar merupakan contoh interaksi sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.
Jadi, pengertian tentang Interaksi Sosial sangat berguna didalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat. Umpamanya di Indonesia sendiri membahas mengenai interaksi-interaksi sosial yang berlangsung berbagai suku bangsa, golongan agama. Dengan mengetahui dan memahami perihal tersebut dapat menimbulkan atau mempengaruhi bentuk-bentuk interaksi sosial tertentu. (Soerjono Soekanto,1990:54)
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan empati. Imitasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain. Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.
Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor adanya individu yang mengindentikkan (menjadi sama) dengan pihak yang lain. Contoh menyamakan kebiasaan pemain sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.
Empati adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana alam. Interaksi sosial mensyaratkan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial.(Gunawan, 2010:33)
Islam adalah agama universal yang ajarannya ditujukan bagi umat manusia secara keseluruhan. Inti ajarannya selain memerintahkan penegakan keadilan dan eliminasi kezaliman, juga meletakan pilar-pilar perdamaian yang diiringi dengan himbauan kepada umat manusia agar hidup dalam suasana persaudaraan dan toleransi tanpa memandang perbedaan ras, suku, bangsa dan agama, karena manusia pada awalnya berasal dari asal yang sama.
Melalui ajaran dan pilar tadi, Islam mendorong para pengikutnya agar bersikap toleransi dengan pengikut agama lain dan bersikap positif terhadap budaya, karena Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai khalifah yang mempunyai tanggung jawab kolektif untuk membangun bumi ini, baik secara moril maupun materil. Firman Allah SWT:

۞وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمۡ صَٰلِحٗاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٞ مُّجِيبٞ ٦١
Artinya:           61. Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)"  (Hud:61).
Maksud dari ayat tersebut adalah, bahwa manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.









BAB II
PEMBAHASAN
INTERAKSI SOSIAL SECARA ISLAMI
A.    Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi Sosial berarti hubungan dinamis antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Bentuknya seperti kerja sama, persaingan, pertikaian, tolong-menolong dan Gotong-royong. Soerjono Soekanto mengatakan Interaksi sosial adalah kunci dari seluruh kehidupan sosial, oleh karena itu tanpa interaksi sosial tidak akan mungkin terjadi kehidupan bersama. Interaksi terjadi antara orang-perorangan, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok. (Sahrul,2001:67)
Dalam Islam, Interaksi Sosial disebut dengan istilah hablum minannaasi (hubungan dengan sesama manusia), pengertiannya juga tidak berbeda dengan pengertian interaksi sosial diatas, yaitu hubungan dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Contohya, Saling sapa, berjabat tangan, silaturrahim, solidaritas sosial, ukwah islamiah  dan lai-lain. Interaksi sosial tidak hanya terjadi dikalangan komunitas atau suatu kelompokya saja tetapi juga diluar komunitasnya.
Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan social, oleh karena itu tanpa interaksi social, tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang perorangan secara badaniyah bahkan tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok social. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya. (Soerjono Soekanto,1990:60)
Dalam Islam ada tiga hubungan yang harus dilakukan yaitu hubungan kepada Allah SWT, hubungan kepada sesama manusia dan hubungan kepada alam semesta. Ketiga hubungan ini harus seimbang dan bersinegri. Artinya, tidak boleh fokus pada satu bentuk hubungan saja. Misalnya, mengutamakan hubungan kepada Allah saja tetapi hubungan sesaama manusia di abaikan. Apabila hal itu diabaikan maka tidak lah sempurna keimanan sesorang. Hubungan kepada Allah dari sudut sosiologi disebut dengan hubungan vertikal dan hubungan sesama manusia disebut hubungan horizontal. Hubungan kepada sesama manusia dalam istilah sosiologi disebut dengan interaksi sosial. Hubungan kepada alam semesta yaitu tidak dibenarkan merusak lingkungan tetapi melestarikan dan menjaga dengan baik.
B.     Determinan Interaksi Sosial.

a.       Adanya kepentingan. Manusia sebagai makhluk paripurna dan makhluk sosial memiliki kepentingan terhadap orang lain, tidak bisa hidup sendirian, dan bahkan memerlukan bantuan orang lain. Bentuk kepentingan itu misalnya : pergaulan sosial, tolong-menolong dan punya kebutuhan yanga sama.
b.      Ingin hidup bersama. Ciri manusia yang selalu berinteraksi yaitu ingin hidup bersama dan bersosialisasi. Karena itu, dalam pergaulan sosial ia tidak saja melakukan interaksi pada satu kelompok saja tetapi juga pada kelompok-kelompok lain dengan tidak membeda-bedakan suku, bangsa latar belakang sosial, artinya, pada siapa saja dapat melaksanakan interaksi sosial.
c.       Menghindari konflik sosial. Salah satu yang harus dijauhi di dalam kehidupan sosial ialah terjadinya konflik sosial, konflik bisa timbul karena benturan agama, ideologi, politik, kesenjangan sosial, ekonomi, kesalah pahaman dan penerapan hukum yang tidak adil. Untuk mengatasi konflik tersebut harus selalu berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.
d.      Menjalin kerja sama. Bekerja sama maksudnya ialah bekerja sama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kerja sama misalnya, organisasi sosial, organisasi politik, dan pada umumnya dalam suatu perusahaan , seorang menejer dibantu oleh para karyawannya.
e.       Faktor kekerabatan dan keagamaan. Kekerabatan terjadi karena ada hubungan darah dan perkawinan sehingga memudahkan untuk melakukan interaksi sosial.
f.       Kedekatan; hubungan ketetanggaan atau tempat tinggal interaksi yang harmonis tetapi juga sebaliknya yaitu terjadi konflik antara tetangga. Pada umumnya semakin dekat jarak geografis antara dua orang maka makin tinggi tingkat interaksi, saling bertemu, berbicara dan bersosialisasi.
g.      Kesamaan; terbentuknya kelompok sosial karena ada kesamaan di antara anggota-angotanya. Pada umumnya faktor kesamaan itulah yang menyebabkan orang selalu berinteraksi.
h.      Faktor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Faktor faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri, secara terpisah dan serentak. (Sahrul,2001:69)
C.    Interaksi sosial masyarakat islam
1.      Pandangan Islam Tentang Interaksi Sosial.
Dalam Islam, interaksi sosial berarti hubungan sosial. Bentuk hubungan yang mencakup populer yaitu silaturrahim. Yang artinya hubungan kasih sayang. Silaturrahim sebagai bentuk interaksi sosial banyak dilakukan umat islam pada kegiatan majlis taklim, menyambut bulan suci ramadahan, penyambutan tahun baru Islam, hari Raya Idhul Fitri dan hari Raya Idul Adha serta halal bi halal. Namun, harus digaris bawahi bahwa kegiatan silaturrahim tidak hanya kegiatan itu saja. Tetapi dalam bentuk wirid yassin, atau serikat tolong menolong juga dapat dikelompokkan kedalam silaturrahim karena setiap kamis malam selalu antara jama’ah, saling kontak, saling bebicara dan saling berdiskusi. (Soerjono Soekanto,1990:68)
Istilah yang lebih luas dari interaksi sosial yakni ukhwah Islamiyah. Artinya, persaudaraan yang dijalin sesama muslim. Persaudaraan itu dibagi empat, yaitu :
a.       Ukwah ‘Ubudiyah yaitu ukhwah berdasarkan sama-sama hamba Allah
b.      Ukhwah Al Insaniyah, artinya ukwah yang didasarkan karena sama-sama manusia sebagai makhluk Allah yang bersumber dari seorang ayah dan ibu yaitu nabi Adam Dan Siti Hawa.
c.       Ukhwah al-Wathaniyah. Yaitu, ukhwah yang didasarkan pada negara dan kebangsaan yang sama.
d.      Ukhwan fin din Al-Islam, yaitu : ukhwah yang didasarkan karena sama-sama satu akidah. (Zaki,2010:71-72)
Dasar terbentuknya ukhwah Islamiyah, firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujarat, pada ayat 10, yaitu :
إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠
Artinya: 10. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
Bentuk persaudaraan yang di ajarkan oleh al-quran tidak hanya karena faktor satu aqidah Islam. Tetapi disuruh juga untuk melakukan ukhwah dengan umat lain. Menurut Ali Nurdin, Istilah yang disebut oleh al-quran untuk menjalin ukhwah dengan umat lain tidaklah memakai ukhwah tetapi lebih tepat memakai istilah toleransi. Toleransi maksudnya adalah tolong menolong dan saling menghargai antara penganut agama. Toleransi yang dibenarkan yaitu toleransi dalam bidang kehidupan sosial sedangkan dalam bidang aqidah dan ibadah tidaklah dibenarkan.
2.      Etika Interaksi Sosial Dalam Islam
Dalam melakukan interaksi sosial harus ada etika yang dibangun sehingga interaksi itu tetap harmonis, kondusif dan tidak terputus. Berkaitan dengan hal tersebut, Islam menjelaskan beberapa etika tersebut, antara lain, :
a.       Tidak boleh saling memfitnah. Perbuatan fitnah itu dilarang dalam ajaran Islam karena bertentangan dengan kenyataannya. Dalam kehidupan sosial ditemukan beberapa bentuk fitnah, yaitu fitnah terhadap harta, anak, keluarga, dan jabatan bahkan perilaku tersebut cukup sulit dihindari oleh sebahagian masyarakat. Dari segi pergaulan sosial fitnah itu cukup merugikan orang lain dan dampaknya dapat menimbulkan permusuhan, kebencian, dendam dan terputusnya hubungan silaturrahim.
b.      Tidak boleh menghina atau menghujat sesama muslim. Perilaku tersebut dewasa ini cukup mudah ditemukan dalam kehidupan sosial. Orang begitu mudah tersinggung, menghina, menghujat tanpa alasan yang jelas. Dampaknya, yakni sering terjadi permusuhan, kebencian, bahkan juga pertengkaran sesama muslim yang pada akhirnya mengganggu ukhwah islamiyah.
c.       Tidak dibenarkan berburuk sangka kepada orang lain (suuzzan). Karena tetangga, teman dan pegawai kantoran membangun rumah mewah, menduduki jabatan terhormat, punya harta, maupun mobil sering menimbulkan buruk sangka di masyarakat. Dalam Islam, sifat buruk sangka tidak dibenarkan dan termasuk kedalam kategori akhlak al-mazmumah (akhlak tercela).
d.      Bersikap jujur dan adil. Dalam kehidupan sosial tidak dibenarkan penuh dengan kebohongan dan ketiadakadilan karena dapat merugikan pribadi, keluarga, masyrakat bahkan merugikan negara. Pemimpin yang jujur dan adil akan dihormati, dicintai oleh rakyat dan diteladani kepemimpinannya. Tetapi apabila pemimpin tidak jujur dan tidak adil maka aka dihina masyarakat, dan tidak dihormati.
e.       Bersifat tawaduk  atau merendah diri. salah satu sikap yang dibangun dalam interaksi sosial tidak dibenarkan bersifat sombong karena haratnya, jabatan dan status sosial.
f.       Berakhlak mulia. Sesorang yang berakhlak mulia akan mengantarkan bangsa menjadi baik dan dihormati dalam hubungan internasional. Tetapi apabila masyarakat dan bangsanya tidak berakhlak mulia maka bangsa itu tidak dihormati dan mengalami kehancuran. Berakhlak mulia merupakan azas kebahagiaan, keselarasan, keserasian dan keseimbangan hubungan antara sesama manusia, baik pribadi maupun dengan lingkungannya.   (Sahrul,2001:79)

3.      Adab Interaksi Sosial dalam Kehidupan Muslim
Manusia adalah makhluq sosial, dia tak bisa hidup seorang diri, atau mengasingkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Dengan atas penciptaan manusia yang memikul amanah berat menjadi khalifah di bumi, maka Islam memerintahkan ummat manusia untuk saling ta’awun, saling tolong-menolong, untuk tersebarnya nilai rahmatan lil alamin ajaran Islam. Maka Islam menganjurkan ummatnya untuk saling ta’awun dalam kebaikan saja, dan tidak dibenarkan ta’awun dalam kejahatan.
Oleh karena itu manusia selalu memerlukan oranglain untuk terus mengingatkannya, agar tak tersesat dari jalan Islam. Allah SWT mengingatkan bahwa peringatan ini amat penting bagi kaum muslimin.
 وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٥٥
Artinya: 55. Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (Adz Dzariyat: 55)
Bahkan Allah SWT menjadikan orang-orang yang selalu ta’awun dalam kebenaran, dan kesabaran dalam kelompok orang yang tidak merugi hidupnya. Maka hendaknya ummat Islam mngerahkan segala daya, dan upayanya untuk senantiasa mengadakan tashliihul mujtama’, perubahan ke arah kebaikan, pada masyarakat dengan memanfaatkan peluang, momen yang ada.
Jika kita berada di bulan Ramadhan maka bisa melakukan ta’awun, misalnya dengan saling membangunkan untuk sahur, mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu selama menjalankan puasa. Mengingatkan agar jangan menyia-nyiakan puasa dengan amalan yang dilarang syari’at, dsb. Di bulan Syawal, lebih ditingkatkan lagi dengan hubungan sosial yang berkelanjutan, mengesankan. Bulan Dzulhijjah juga momen penting untuk merajut kembali benang-benang ukhuwah. Tentu saja hari-hari selain itu perlu kita tegakkan aktivitas-aktivitas sosial yang memang merupakan seruan Islam. Berikut adalah sebagian kecil di antara perbuatan-perbuatan yang dianjurkan Islam untuk memperkuat ‘alaqah ijtima’iyyah (interaksi sosial) adalah:
a.       Silaturahim
Islam menganjurkan silaturahim antar anggota keluarga baik yang dekat maupun yang jauh, apakah mahram ataupun bukan. Apalagi terhadap kedua orang tua. Islam bahkan mengkatagorikan tindak “pemutusan hubungan silaturahim” adalah dalam dosa-dosa besar.
“Tidak masuk surga orang yang memutuskan hubungan silaturahim” (HR. Bukhari, Muslim)
b.      Memuliakan tamu
Tamu dalam Islam mempunyai kedudukan yang amat terhormat. , dan menghormati tamu termasuk dalam indikasi orang beriman.
“…barang siapa yang beriman kepada Allah, dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari, Muslim)
c.       Menghormati tetangga
Hal ini juga merupakan indikator apakah seseorang itu beriman atau belum.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
 “…Barangsiapa yang beriman kepada Allah , dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR. Bukhari, Muslim).


Apa saja yang bisa dilakukan untuk memuliakan tetangga, diantaranya: 
- Menjaga hak-hak tetangga 
- Tidak mengganggu tetangga 
- Berbuat baik, dan menghormatinya 
- Mendengarkan mereka 
- dan mendo’akannya, dst.
d.      Saling menziarahi. 
Rasulullah SAW, sering menziarahi para sahabatnya. Beliau pernah menziarahi Qois bin Saad bin Ubaidah di rumahnya , dan mendoakan: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat-Mu serta rahmat-Mu buat keluarga Saad bin Ubadah”. Beliau juga berziarah kepada Abdullah bin Zaid bin Ashim, Jabir bin Abdullah juga sahabat-sahabat lainnya. Ini menunjukkan betapa ziarah memiliki nilai positif dalam mengharmoniskan hidup bermasyarakat.
e.       Memberi ucapan selamat.
Islam amat menganjurkan amal ini. Ucapan bisa dilakukan di acara pernikahan, kelahiran anak baru, menyambut bulan puasa. Dengan menggunakan sarana yang disesuaikan dengan zamannya. Untuk sekarang bisa menggunakan kartu ucapan selamat, mengirim telegram indah, telepon, internet, dsb.
Sesungguhnya ucapan selamat terhadap suatu kebaikan itu merupakan hal yang dilakukan Allah SWT terhadap para Nabinya , dan kepada hamba-hamba-Nya yang melakukan amalan surga.
f.       Peduli dengan aktivitas sosial.
Orang yang peduli dengan aktivitas orang di sekitarnya, serta sabar menghadapi resiko yang mungkin akan dihadapinya, seperti cemoohan, cercaan, serta sikap apatis masyarakat, adalah lebih daripada orang yang pada asalnya sudah enggan untuk berhadapan dengan resiko yang mungkin menghadang, sehingga ia memilih untuk mengisolir diri, dan tidak menampakkan wajahnya di muka khalayak.
“Seorang mukmin yang bergaul dengan orang lain , dan sabar dengan gangguan mereka lebih baik dari mukmin yang tidak mau bergaul serta tidak sabar dengan gangguan mereka” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Ahmad).
g.      Memberi bantuan sosial.
Orang-orang lemah mendapat perhatian yang cukup tinggi dalam ajaran Islam. Kita diperintahkan untuk mengentaskannya. Bahkan orang yang tidak terbetik hatinya untuk menolong golongan lemah, atau mendorong orang lain untuk melakukan amal yang mulia ini dikatakan sebagai orang yang mendustakan agama.
أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (Al Maa’un: 1-3).












BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi sosial yang menjadi syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial ini merupakan hubungan sosial yang dinamis. Interaksi sosial menyangkut hubungan antar perorangan, antar kelompok, atau antara individu dengan kelompok.
Adanya hubungan timbal balik dalam mempengaruhi tiap individu pada saat terjadinya komunikasi dapat membentuk suatu pengetahuan maupun pengalaman baru yang dirasakan oleh masing-masing individu.
Adanya tingkat kesadaran didalam berkomunikasi diantara warga-warga dalam kehidupan bermasyarakat dapat membuat  masyarakat dipertahankan sebagai suatu kesatuan dan menciptakan apa yang dinamakan sebagai suatu sistem komunikasi. Karena kelangsungan kesatuannya dengan jalan komunikasi itu, setiap masyarakat dapat membentuk kebudayaan berdasarkan sistem komunikasinya masing-masing.









DAFTAR PUSTAKA

Gunawan,H. Sosiologi Pendidikan, Bandung: Rineka Cipta, 2010
Mubarak, Zaki. Menjadi Cendikiawan Muslim : Kuliah Islam di Perguruan Tinggi. Jakarta: PT. Magenta Bhakti Guna, 2010
Sahrul. Sosiologi Islam. Medan : IAIN PRESS, 2001
Soekanto,Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar . Jakarta : Rajawali Pers, 1990

Tim Sosiologi, Sosiologi 1, Jakarta: Yudhistira, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar